Subscribe Twitter
Tampilkan postingan dengan label makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

Si lebah : Gigih atau Bodoh?



Merasa iba, sedih, kasihan, setiap pagi menyaksikan banyak lebah yang mati di sekitar lampu dan di kamar mandi. Kurang lebih seperti di video di atas, si lebah yang tak kenal lelah mencoba mengikuti cahaya, meski ada penghalang, TERJANG TERUSS!

Ini bodoh atau apa.. Si pasukan berani mati ini seakan-akan mati konyol. Begitulah dia. Gigih atau Bodoh? Dia membentur-benturkan dirinya. Jatuh, lalu dengan sigap kembali bangkit. Apa dia tau ada yang namanya rasa sakit? Mungkin jatuh, menyerah, sakit, tidak ada dalam kamusnya. Sampai dengan dia melemah, langkahnya tertatih, cuma satu yang dilakukannya, mencoba terbang lagi.

Sampai pada suatu hari, ayah mencoba panen madu.. Karena sarangnya diambil sebagian, lebah-lebah itu pun keluar kandang. ternyata kawanan lebah itu berisi banyaaak sekali.. Belum pernah melihat lebah sebanyak itu mengerumuni lampu-lampu depan rumah.

Oh ternyata, masih banyaaak sekali teman-temannya yang masih hidup dan berjuang bahu-membahu. Memang ada yang mati, tapi toh akhirnya kawanan lebah ini berhasil. Dan, kegigihannya berbuah manis, menghasilkan madu yang sangat bermanfaat. Mungkin lebah adalah simbol pahlawan.

maaf minta dikit madunya ya :P

Sabtu, 12 November 2011

Cuplikan Novel: Negeri 5 Menara

Bagian yang paling saya sukai pada novel 'Negeri 5 menara' adalah percakapan antara Alif dan Amaknya..

"Apakah kawan-kawan yang main dan berkelahi tadi orang Islam?" tanya Amak lembut.
Aku mengangguk sambil memajukan bibirku, merengut.
"Apa perintah Nabi kepada sesama muslim?"
"Memberi salam."
"Yang lain?"
"Tersenyum."
"Yang lain?"
"Bersaudara."
"Nah bersaudara itu berteman, tidak berkelahi, saling menyayangi. Itu perintah Nabi kita. Mau ikut Nabi?"
"Mau."
"Jadi harus bagaimana ke kawan-kawan?" Kali ini Amak bertanya sambil tersenyum damai.
"Bersaudara dan tidak berkelahi."
indahnya :)

Rabu, 02 November 2011

Karena Memaafkan Itu Lebih Baik

Dari Bunga Cantik


Percakapan antara saya dan sahabat :



Nanas :
"Hati-hati kalau punya salah, nanti dituntut di akhirat loh.. "

Melinjo :
"Iya memang benar, suatu hari di akhirat kita digambarkan akan saling menuntut agar masuk surga. "

Nanas :
"Gimana caranya biar masuk surga.. yang dipikirkan cuma itu. "

Sawo :
"Hah? yang benar? seram amat.. masak bisa kayak gitu. Berarti harus siapin banyak nih, ga usah dimaafin aja kalau ada yang salah."
Nanas :
"Hahaha buat investasi.."
Melinjo :
"Pernah dengar cerita seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena maaf? Sebelum petang dia selalu meminta maaf kepada orang-orang yang ditemuinya hari itu dan diapun selalu memaafkan orang-orang yang secara sadar atau tidak sadar telah menyakitinya.. Kedengarannya mudah, tapi coba saja :p Ceritanya bisa dibaca di sini "
Sawo :
"Mengapa dia memilih untuk memaafkan? Bukankah lumayan nanti kalau di akhirat timbangannya kurang, dia bisa menuntut pahala orang lain?"
Melinjo :
"Karena dia tau sesungguhnya memaafkan itu lebih mulia :) "
Nanas :
"Iya kalau yang dituntut masih punya pahala :p kalau sama-sama minus gimana? Masak mau mengandalkan orang lain"

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa,

yaitu orang yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, dan orang - orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan" QS : Ali Imran 133-134

Saya mohon maaf bila pernah menyakiti.. Mulai dari nol ya :D Semoga saya menjadi orang yang lebih baik dalam bersikap dan saya akan belajar lebih tulus dalam memaafkan. #investasi pahala

Jumat, 20 Mei 2011

Dialog dengan Tukang Siomay

Kesempatan untuk sekolah dan kuliah bisa menjadi faktor yang merubah hidup, setidaknya untuk mendarat di pekerjaan yang lebih baik. Hal ini tidak dialami oleh saudara kita, tukang siomay di depan alfamart. Ketika lulus SMP, orang tuanya tidak mampu lagi membiayai sekolahnya. Alhasil, pendidikannya berhenti.

Namanya Andi, sehari-hari bekerja menjaga stand siomay di depan alfamart yang merupakan salah satu cabang Siomay Endi. Saya mengenalnya karena saya pernah berdialog dengannya sewaktu menunggu hujan reda di alfamart. Saya bersama teman saya, sebut saja melati.

"Asalnya dari mana mbak?"

"Dari Jawa Tengah, Jepara. Kalo mas dari mana?"

"Dari Purwokerto."

"Kok bisa sampe sini gimana ceritanya?"

"Saya sebenarnya dari purbalingga mbak. Iya dikasih tau temen."

Curhat colongan terjadi. Andi menyampaikan, betapa nestapa hidupnya.

"Kalian enak ya bisa kuliah. Saya tiap hari disini. Mulai dari jam tujuh harus sudah buka tokonya. Siap-siapnya mulai dari jam 6. Jam 9 atau lebih baru pulang. Belum beres-beresnya sampai jam 11. Kalau ada cucian baju harus nyuci dulu."

Kesempatan untuk sekolah juga membuat kita berbeda dalam kualitas berpikir. Melati yang bercerita kepada saya. Dia sedang menunggu saya di depan alfamart untuk makan malam bersama saya. Dia mendengar andi bertanya kepada seorang mahasiswa.

"Mbak gimana caranya nyebar brosur ini ya?"

"Mas berdiri di depan pintu alfamart, terus dibagiin ke orang-orang yang lewat."

Lalu Andi pun melakukannya sesuai saran tersebut. Dia tidak melihat peluang untuk menyelesaikan masalahnya saat itu seperti halnya dia tidak melihat sisi positif pekerjaannya saat ini.

Pekerjaan Andi sebelumnya sebenarnya lebih baik. Dia bekerja di bengkel di Purbalingga dan merupakan tangan emas bosnya. Dia dipercaya sebagai mekanik, menghandle uang, dan gudang. Sayang sekali, akhirnya dipecat karena pacarnya. Untuk urusan cinta pun nestapa.

"Mas sudah pernah mengurusi bengkel, sudah tau sistemnya, punya banyak kenalan di purbalingga. Pernah nggak kepikiran buat bengkel sendiri?"

"Modalnya besar mbak. Saingannya juga banyak. Di satu jalan aja bisa ada 5 bengkel."

"Ya mungkin dari kenalan mas mau diajak kerja sama, kasih modal."

"Apa yang mau saya jadikan jaminan, mbak. Orang tua saya nggak punya apa-apa"

"Kalo orang pinjam kan yang penting uangnya dibalikin mas." *ngeles (dalam hati bingung juga, hehehe)

Sekian